CIREBON, Aspirasi Nusantara, –  Petani di Desa Jungjang dan Desa Jungjang Wetan, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, mengeluhkan pasokan air untuk mengairi lahan pertanian kering, terutama saat musim kemarau sekarang.
Petani Desa Jungjang berharap saluran irigasi yang ada dapat dinormalisasi dan dikembalikan seperti kondisi sebelumnya. Mereka menilai perubahan kondisi saluran setelah adanya pembangunan perumahan yang membuat aliran air tidak lagi optimal dan tidak mampu menjangkau lahan pertanian lagi. 

Petani Desa Jungjang, Aryudin, mengatakan sekitar tahun 2010 aliran irigasi masih mampu mengairi persawahan hingga wilayah blok Plawad. Namun, setelah adanya pembangunan perumahan, debit dan aliran air semakin berkurang sehingga tidak lagi mencapai kawasan tersebut.

“Kami sebagai petani ingin saluran irigasi dinormalisasi seperti semula. Biar pengairannya bisa sampai ke Plawad dan biaya yang dikeluarkan petani tidak membengkak karena harus menggunakan pompa,” ujar Aryudin. Senin (18/8/2026).

Menurutnya, persoalan tersebut telah beberapa kali disampaikan, termasuk melalui protes kepada pihak terkait. Namun, hingga kini belum ada respons maupun solusi yang diharapkan petani.

Minimnya pasokan air berdampak langsung terhadap membengkak biaya pengairan yang harus ditanggung petani. Saat musim penghujan, biaya pengairan petani membayar sekitar 50 kilogram gabah per bau, karena pembayarannya dilakukan setiap panen. Sementara saat musim kemarau, biaya tersebut dapat meningkat hingga sekitar 100 kilogram per bau, bahkan lebih, tergantung kebutuhan pengairan.

“Kalau irigasinya lancar, cukup sekitar 50 kilogram. Tapi kalau musim kemarau dan air dari irigasi tidak sampai, biayanya bisa mencapai dua kintal kadang lebih Selisihnya cukup besar,” katanya.

Aryudin menambahkan, keterbatasan pasokan air juga berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman apabila kebutuhan pengairan tidak terpenuhi. Luas lahan pertanian yang terdampak kondisi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 27 hektare.

Para petani berharap pemerintah turun tangan mencari solusi, termasuk melakukan normalisasi saluran irigasi agar kembali berfungsi optimal.

“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah untuk menormalisasi irigasi seperti dulu. Dengan begitu petani tidak lagi kesulitan mendapatkan air, terutama saat musim kemarau,” ujarnya. (Sri)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama