CIREBON, Aspirasi Nusantara, - Kesulitan ekonomi dan berbagai kesulitan lain yang dirasakan masyarakat kecil menjadi perhatian kalangan Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Cirebon. Kondisi itu dibahas dalam Halaqah Pra-Musyawarah Besar (Mubes) yang digelar di Pondok Pesantren Khatulistiwa Kempek, Kabupaten Cirebon, Senin (1/6/2026).



Forum tersebut mengangkat tema “NU dan Krisis Kehidupan Rakyat Mendengar Suara Akar Rumput dan Ketahanan pangan Warga NU di Tengah Krisis Ekonomi, Sosial, dan Kebijakan Negara”. 


Sejumlah persoalan yang membelit masyarakat bawah mengemuka, mulai dari kesulitan petani memperoleh pupuk, pendapatan nelayan yang terus menurun, hingga lemahnya daya beli masyarakat serta permasalahan migran. 


Pengasuh Pesantren Manhaj Luhur Fahmina Cirebon, KH Marzuki Wahid, mengatakan, NU perlu kembali memastikan keberpihakannya kepada masyarakat kecil di tengah situasi yang semakin berat saat ini. 


Menurutnya, kelompok masyarakat bawah kini menghadapi tekanan berlapis. Petani tidak hanya dibebani mahal dan langkanya pupuk, tetapi juga harga hasil panen yang tidak stabil. Nelayan menghadapi kerusakan lingkungan laut yang berdampak pada hasil tangkapan dan pendapatan mereka.


Di sisi lain, pedagang kecil kesulitan mempertahankan usaha akibat menurunnya daya beli masyarakat. Guru honorer juga masih bergulat dengan persoalan kesejahteraan, sementara keluarga buruh migran menghadapi tekanan ekonomi dan sosial yang terus meningkat.


“Pertanyaan pentingnya, apakah NU masih cukup dekat dengan kegelisahan rakyat kecil dan mampu menjadi ruang perlindungan bagi mereka,” kata Marzuki dalam forum tersebut.


Ia menilai, halaqah itu bukan sekadar ruang diskusi, melainkan tempat untuk mendengar langsung pengalaman masyarakat akar rumput yang selama ini menjadi basis sosial NU.


Berbagai unsur masyarakat hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain petani, nelayan, pedagang kaki lima, guru, santri, akademisi, pendamping buruh migran, aktivis sosial, hingga warga NU dari sejumlah daerah di Cirebon Raya.


Melalui forum itu, peserta diharapkan dapat merumuskan rekomendasi sosial dan langkah konkret untuk memperkuat solidaritas warga serta ketahanan sosial-ekonomi masyarakat di tengah situasi yang dinilai semakin sulit.


Selain KH Marzuki Wahid, halaqah menghadirkan sejumlah narasumber lain, di antaranya Dr A Syatori, Ridwan BJ, Nurlaeli, Ja’faruddin, Usman Efendi, Saadah, dan Muhammad Jaenuri. Diskusi dipandu moderator Akbaruddin Sucipto.


Panitia membuka kegiatan tersebut untuk warga NU, mahasiswa, guru, dosen, organisasi perempuan, organisasi kepemudaan, aktivis lingkungan, dan masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap persoalan rakyat serta arah gerakan NU ke depan.(Sre)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama